Mesin Pirn Winder(PW) Murata 305
Cara Pemeliharaan Mesin Pirn Winder(PW) Murata 305
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pemeliharaan Mesin Pirn Winder
Dalam pembahasan ini diperlukan data-data yang mendukung untuk kelengkapan pembahasan dan studi kasus. Data-data tersebut diperoleh melalui pengamatan dan penganalisaan terhadap area pulper room tersebut yaitu pada mesin Pirn Winder, mengadakan wawancara, tanya jawab dan diskusi langsung dengan pembimbing, mempelajari sistematika alur produksi melalui komputer dan kontrol panel diruang pembimbing atau karyawan, serta mencatat spesifikasi yang terdapat pada nameplate mesin untuk mengetahui sistem pengoperasian masing-masing mesin.
3.2 Perawatan Di PT.MAHAMERU CENTRATAMA SPINNING MILSS Bandung
Pada PT. MAHAMERU CENTRATAMA SPINNING MILLS Bandung ini pelaksanaan pekerjaan perawatan dibagi menjadi tiga cara yang sesuai dengan sistem SAP(System Application Product in Data Processing), yaitu :
Suatu pekerjaan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada alat/fasilitas lebih lanjut.Lingkup pekerjaan preventive termasuk: inspeksi, perbaikan kecil, pelumasan dan penyetelan, sehingga peralatan atau mesin-mesin selama beroperasi terhindar dari kerusakan.Perawatan preventive meliputi beberapa pencegahan yang berskala seperti dibawah ini :
Ø Perawatan Harian
Adapun yang dilakukan dalam perawatan harian pada area pulper room, yaitu :
a. Membersihkan tutup spindel dari material- material yang menempel pada dinding luartutup spindel. Adapun material yang menempel pada dinding biasanya berupa kerak-kerak hasil pengulungan benang.
b. Membersihkan bagian luar spindel yang masih ada material bahan baku.Mengecek v-beltkarena ada kemungkinan v-beltkendor. Apabila v-belt kendor maka dikencangkan kembali hingga menempel pada spindel.
d. Memberikan grease pada bearing agar bearing lancar dan tidak panas. Pemberian grease ini bertujuan agar bearing dapat bekerja dengan baik dan sedikit mengurangi kerusakan pada bearing.
Ø Perawatan Bulanan
Perawatan bulanan ini dilakukan untuk penggantian spare part dan pengecekan pada mesin pirn winder, antara lain :
· Perawatan 4 bulanan diantaranya :
a. Pemeriksaan Bearing
Pemeriksaan ini bertujuan apakah bearing masih bagus atau tidak pada saat digunakan dalam proses produksi. Pada suatu peralatan/mesin dapat dipastikan bahwa terdapat banyak komponen yang bergerak baik dalam bentuk gerakan angular maupun gerakan linear. Gerakan relatif antar komponen mesin akan menimbulkan gesekan, dimana gesekan ini dapat menurunkan efisiensi mesin, meningkatnya temperatur, keausan, dan berbagai efek negatif lainya. Gesekan antara komponen mesin tersebut dapat diminimalkan dengan menggunakan bantalan atau bearing. Keausan pada bearing adalah hilangnya sebagian material dari bearing tersebut disebabkan oleh gesekan(friction). Keausan pada bearing tersebut bukanlah sifat dari material, melainkan respons material terhadap sistem luar atau dengan kata lain terjadi kontak antar permukaan pada bearing. Jika suatu material diberikan beban atau gesekan secara terus menerus, maka dalam kurun waktu yang lama material tersebut akan rusak. Sama halnya bearing, kerusakan bearing pada transmisi terjadi karena putaran gear dan poros pada sebuah transmisi, yang menyebabkan bearing tersebut bergesekan. Gesekan yang terjadi secara terus menerus dan akan dalam kurun waktu yang lama akan menyebabkan bearing tersebut rusak atau haus pada bagian tersebut rusak.
Umur pakai bearing adalah batas pakai bearing yang telah dibuat oleh pabrik yang apabila digunakan atau dipakai dalam waktu tertentu bearing tersebut akan rusak. Adapun faktor-faktor penyebab kerusakan bearing sebelum umur pakainya adalah :
1. Kelalaian konsumen dalam merawat transmisi, sehingga bearing akan rusak sebelum waktu pakainya.
2.Masuknya kotoran pada transmisi: Biasanya terjadi karna kelalaian mekanik tidak membersihkan baut penutup oli dan juga tidak membersihkan transmisi pada saat penggantian oli pelumas akibatnya bearing akan mengalami kerusakan sebelum umur pakainya.
3.Beban berlebih: Beban berlebih ini akan membuat getaran dan panas yang tinggi pada transmisi. Panas dan getaran tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada bearing sebelum umur pakai bearing habis.
Pengecekan vibration pada bearing, seperti dibawah ini menggunakan alat check Vibration Meter:
(Gambar 2.5 Check Getaran Menggunakan Vibration Meter)
Getaran mesin (Mechanical Vibration) diartikan sebagai gerakan bolak-balik dari komponen mekanik dari suatu mesin sebagai reaksi dari adanya gaya dalam (gaya yang dihasilkan oleh mesin tersebut) maupun gaya luar (gaya yang berasal dari luar atau sekitarmesin). Kasus yang dominan dalam getaran permesinan adalah yang disebabkan oleh gaya eksitasi getaran yang berasal dari mesin tersebut, yang menyangkut diantaranya:
· Kondisi yang tak seimbang (unbalance) baik yang statik maupun dinamik pada mesin tersebut.
· Cacat yang terjadi pada elemen-elemen rotasi (bearing rusak, impeller macet, dll)
· Ketidaksempurnaan bagian/ fungsi mesin tersebut. Mesin yang ideal tidak akan bergetar karena energi yang diterimanya digunakan sepenuhnya untuk kefungsian mesin itu sendiri.
Dalam praktek mesin yang dirancang dengan baik, getarannya relatif rendah namun untuk jangka pemakaian yang lama akan terjadi kenaikan level getaran karena hal berikut:
Ø Keausan pada elemen mesin.
Ø Proses pemantapan pondasi (base plate) sedemikian rupa sehingga terjadi deformasi dan mengakibatkan misalignment pada poros.
Ø Perubahan perilaku dinamik pada mesin sehingga terjadi prubahan frekuensi pribadi.
Analisis ciri mekanik memungkinkan pemanfaatan sinyal getaran untuk mengetahui kondisi mesin tersebut tanpa membongkar atau menghentikan suatu mesin, sehingga dapat dimanfaatkan untuk analisis lebih lanjut dalam perbaikan pada kerusakan yang terjadi. Dengan melakukan pengamatan analisis getaran secara berkala, maka sesuatu yang tidak normal pada suatu mesin dapat dideteksi sebelum kerusakan yang lebih besar terjadi.Sensor getaran ini memegang peranan penting dalam kegiatan pemantauan sinyal getaran karena terletak di sisi depan (front end) dari suatu proses pemantauan getaran mesin. Secara konseptual, sensor getaran berfungsi untuk mengubah besar sinyal getaran fisik menjadi sinyal getaran analog dalam besaran listrik dan pada umumnya berbentuk tegangan listrik. Pemakaian sensor getaran ini memungkinkan sinyal getaran tersebut diolah secara elektrik sehingga memudahkan dalam proses manipulasi sinyal. Pada sensor vibration meter terbaca 50Hz yakni bearing tersebut berputar pada motor 3000 Rpm dan bearing tersebut masih bisa dipakai karena pada standar pabrik yang digunakan umur bearing tersebut selama 1 juta kali putaran.
b. Pemeriksaan V-belt
Untuk pemeriksaan kontruksi dapat dilihaat dari fisik v-belttersebut, apabila v-beltterlihat ada retakan, berubah bentuk, aus terkena pulp(grease). Jika ditemukan kerusakan maka harus diganti dengan yang baru. Adapun dalam memeriksa kekencangannya dapatdilakukan dengan cara memberikan tekanan pada v-belt sebesar 10 kg.
(Gambar 2.6 Check V-Belt Yang Retak)
c. Pemeriksaan Pirn Winder
Untuk pemeriksaan pirn dapat dilihat dari tebal permukaannya atau tidaknya bagian luar pirn winder, apabila spindel mengalami keausan maka spindel diganti dengan yang baru. Perawatan besar yang dilakukan setiap 4 bulan adalah penggantian spindel, karena spindel mengalami keausan akibat pengoperasian atau gesekan terhadap pan atau pirn dan spindel akan diganti dengan yang baru supaya prosses mesin prin winder dapat dioprasikan kembali dengan normal dan tidak ada kendala pada waktu pengoperasian sehingga mesin tersebut akan lancar dan proses produksi tidak akan terganggu maka perlu ada pengecekan setiap minggu supaya spindel tidak ada masalah dan spindel akan normal kembali.
(Gambar 2.7 spindel Permukaannya Kasar)
Suatu pekerjaan yang dilakukan untuk memperbaiki/mengganti semua kerusakan pada alat/mesin yang sudah tidak berfungsi.
Suatu pekerjaan yang dilakukan untuk perawatan mesin produksi dan dapat memprediksi kapan mesin akan diperbaiki.Dan perawatan yang merupakan tidak direncanakan (unplanned maintaenance) di PT.MAHAMERU CENTRATAMA SPINNING MILLS, yaitu :
Breakdown maintenance adalah pekerjaan perbaikan yang harus segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga akibat overload pada mesin produksi kertas. Pekerjaan perawatan dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan, dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat dan tenaga kerjanya.
Contohnya pada saat produksi mesin pirn winder mengalami kemacetan yang diakibatkan material yang masuk terlalu banyak sehingga mesin press tiba-tiba tersendat. Maka mesin pirn winder dimatikan lalu dilakukan pengosongan material terhadap mesin pirn winder tersebut. Kemudian dihidupkan kembali mesin pirn winder dengan pengisian material yang sesuai agar mesin pirn winder tidak mengalami kemacetan kembali.
Berikut studi kasus yang saya tangani ketika sedang melaksanakan kerja praktek diPT. MAHAMERU CENTRATAMA SPINNING MILLS Bandung, dibawah ini :
3.3 Sudi Kasus
Kerusakan yang terjadi pada rolI size pressyang diakibat karena adanya pergesekan sehingga pada permukaan roll tersebut menjadi kasar,permukaan roll tersebut diukurmenggunakan alat ukur Rolling Mill Calipers dengen ketelitian yang tinggi, yang digunakan untuk mengukur permukaan yang tak rata. Berikut gambar alat ukur tersebut :
(Gambar 2.8 Vernier Calipers)
Adapun umur pemakaian pada roll press mempunyai waktu pemakaian benda kerja sekitar 2460 jam kerja atau sekitar 4 bulan, sehingga roll press benar-benar mengalami keausan yang cukup parah. Pemakain roll press pada proses produksi di PT. MAHAMERU CENTRATAMA SPINNING MILLS dimulai dari jam 07.30 pagi dan proses produksi berhenti jam 04.00 pagi, Jadi waktu pemakaian hanya 20 jam kerja. Sehingga pirn windersedikit mengurangi waktu keausannya dibandingkan dengan waktu pemakaian pirn winder24 jam dalam proses produksi yang cepat membuat pirn winder mengalami keausan.Berikut benang yang diakibatkan oleh permukaan spindel yang kasar :
(Gambar 2.9 Benang Kusut Akibat Permukaan Roll Kasar)
Apabila perusahaan kehabisan bahan baku atau sparepart, proses pembelian bahan baku dan sparepart dalam pembelian bahan baku dan sparepart dilakukan bagian produksi yang akan mengajukan permintaan bahan baku atau sparepart kepada bagian raw materialdan sparepart. Apabila dibutuhkan pembelian bahan baku atau sparepart maka bagian raw material dan sparepart akan membuat form permintaan barang habis kepada bagian purchasing. Kemudian bagian purchasing akan memesan bahan baku yang habis kepada supplier-supplier yang terpilih untuk memasok barangnya pada PT.MAHAMERU CENTRATAMA SPINNING MILLS. Berikut proses pemesanannya sebagai berikut :
(Gambar 2.10 Proses Pemesanan Bahan Baku Dan Sparepart)
Pada saat proses perbaikan Pirn winder single berlangsung persediaan spindel tersebut masih tersedia. Lalu spindel tersebut diganti denganspindel yangbaru permukaan spindelbaru/halus. Pada proses perbaikan ini menggunakan sistem corrective maintenance, karena pada proses pekerjaan yang dilakukan untuk memperbaiki/mengganti semua kerusakan pada alat/mesin yang sudah tidak berfungsi. Maka dari itu pihak mekanik maintenance sendiri langsung mematikan seluruh area paper machine, karena perbaikan terebut dilakukan ketika jadwal shutdown sedang berlangsung, jadi tidak mengganggu saat mesin sedang melakukanproses produksi. Tujuan dari proses perbaikan tersebut karena kertasmerupakan produk yang memiliki berbagai macam spesifikasi, dari segi ukuran, jenis, berat, warna, kualitas, jumlahper sheet, dan hal lainnya.PT.Mahameru Centratama Spinning Mills selalu mencoba untuk menerima setiap pemesanan dengan spesifikasiapapun. Setiap muncul spek berbeda, perusahaan harus membuat satu nomor material baru. Hal ini menjadikan produk memiliki range yang sangat besar. Ini juga akan berdampak pada peningkatan biaya operasional karena semakin bervariasi hasil produksi maka perusahaan semakin sulit menekan biaya. Apabila hasil produksi semakin standar dan banyak maka perusahaan dapat menekan biaya operasional sehingga profit yang didapatkan akan semakin besar.
Komentar
Posting Komentar